Sabtu, 11 Juli 2015

Guru PNS / PPG wajib mengajar dulu di pedalaman

Mulai tahun depan pemerintah menerapkan sistem baru rektrutmen guru PNS. Bagi yang berminat menjadi guru PNS, wajib mengikuti program sarjana mengajar di daerah terluar, tertinggal, dan terdepan (SM3T) serta pendidikan asrama dahulu.

Dengan sistem itu, menjadi guru PNS hampir mirip dengan menjadi dokter. Karena sama-sama harus mengabdi di daerah terpencil dahulu. Seperti diketahui untuk menjadi dokter PNS, calon dokter harus mengikuti program pegawai tidak tetap (PTT) di daerah terpencil.

Direktur Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Dirdiktendik) Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Supriadi Rustad mengatakan, pada prinsipnya sarjana guru yang ingin melamar menjadi PNS wajib lulus program pendidikan profesi guru (PPG).
Nah program PPG ini wujudnya adalah praktek mengajar di daerah pedalaman (SM3T) dan pendidikan di asrama.

Supriadi menuturkan selama ini untuk menjadi PNS guru tidak ada seleksi. "Yang ada seleksi CPNS baru. Bukan seleksi guru," katanya di sela pembukaan pameran foto aktifitas guru SM3T di kantor Kemenristekdikti tadi malam.

Celakanya lagi ada orang yang memilih jadi guru, karena tidak diterima melamar kerja di mana-mana. Sehingga di lapangan banyak guru PNS yang bekerja tidak dengan kualifikasi sebagai seorang guru professional. Ujungnya proses pembelajaran tidak berjalan dengan baik.

Guru besar Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu mengatakan, calon guru PNS harus orang-orang hebat.
"Dengan digembleng dulu dalam program SM3T dan kemudian pendidikan diasramakan," tandasnya. Program SM3T ditambah dengan pendidikan asrama ini dijalankan calon guru selama dua tahun.

Melalui cara ini, Supriadi mengatakan jebolan program PPG tidak hanya memiliki kompetensi pedagogik atau keilmuan guru semata. Tetapi juga memiliki kompetensi kepribadian dan kepedulian sosial.
"Ketika sudah masa pendidikan asrama, juga bukan berarti enak-enakan saja," katanya. Calon guru pada tahap ini dilatih disiplin waktu yang ketat.

Dengan sistem baru rekrutmen guru ini, maka pemerintah akan memetakan kebutuhan guru baru secara nasional. Kemudian Kemenristekdikti melalui kampus lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) membuka seleksi peserta PPG. Jumlah yang diterima PPG ini disesuaikan dengan kebutuhan nasional.

Sarjana pendidikan maupun sarjana non pendidikan, seperti lulusan politeknik, boleh mendaftar seleksi PPG. Khusus untuk sarjana program diploma IV dari politeknik, diproyeksikan menjadi guru produktif di SMK sesuai dengan bidangnya.

Menurut Supriadi sistem baru rekrutmen guru ini mendapat sambutan positif dari kepala daerah. Sejumlah kepala daerah yang ketempatan atau menjadi tuan rumah SM3T, membuka formasi PNS guru untuk alumni SM3T. Supriadi mengatakan meskipun program SM3T ini dijalankan oleh pemerintah pusat, status guru PNS tetap ada di pemerintah daerah setempat.

Menteri Ristekdikti Muhammad Nasir mendukung program baru rekrutmen CPNS guru. Dia mengatakan program SM3T benar-benar menggembleng calon guru. "Mereka tidak hanya menunggu siswa datang ke sekolah. Tetapi sampai menjemput siswa di rumah-rumah supaya mau ke sekolah," ujar mantan rektor Universitas Diponegoro itu.

Mendikbud Anies Baswedan juga mengisyaratkan perlu ada reformasi rekrutmen guru. Menurutnya selama ini rekrutmen guru begitu longgar. Siapa saja bisa menjadi guru, tanpa ada seleksi kompetensinya. Ujungnya pemerintah kesulitan dalam proses pembinaan dan pengawasannya. Dia sepakat jika rekrutmen guru diperketat dengan mendapatkan guru-guru yang berkualitas
 
Sumber:
http://gurukomputerkita.blogspot.com/2015/06/guru-pns-ppg-wajib-mengajar-dulu-di.html

Jengkol Berkhasiat untuk Penyakit Jantung Hingga Diabetes

Manfaat jengkol belum banyak diketahui oleh masyarakat umum, sangat sayang, padahal sayuran ini cukup ampuh untuk menjaga kesehatan tubuh.
Jengkol menjadi salah satu makanan favorit masyarakat Indonesia karena teksturnya yang empuk bila dimasak dengan benar dan rasanya yang sangat khas.
Jengkol sering dihidangkan sebagai lauk atau menu utama. Kini semakin kreatifnya masyarakat kita, jengkol pun kini dapat diolah sebagai camilan. Sebut saja keripik jengkol. Aroma jengkol memang sangat tajam.
Namun tahukah anda dibalik tajamnya aroma jengkol, Jengkol memiliki banyak manfaat untuk kesehatan tubuh.
Manfaat jengkol bagi kesehatan sudah tidak diragukan lagi, namun sayangnya tidak banyak orang yang tahu. Berikut beberapa manfaat jengkol bagi kesehatan:
1. Pembentukan Jaringan Tubuh
Kandungan protein yang tinggi pada jengkol dapat membantu pembentukan jaringan dalam tubuh. kandungan protein pada jengkol ternyata jauh lebih banyak bila dibandingkan dengan kandungan protein pada kacang hijau dan kacang kedelai.
2. Mencegah Anemia
Jengkol juga kaya akan zat besi di mana zat besi ini sangat berperan untuk mencegah dan mengatasi kurangnya produksi sel-sel darah merah dalam tubuh. Anda pastinya tahu bahwa bila tubuh kekurangan zat besi, produksi sel-sel darah merah akan berkurang. Akibatnya suplai oksigen dan zat-zat makanan yang dibutuhkan oleh seluruh sel dalam tubuh juga akan berkurang.
Efek dari kurangnya suplai oksigen dan zat-zat makanan pada sel akan menurunkan fungsi/ kinerja sel. Tak heran jika seseorang mengalami kekurangan zat besi, ia akan terlihat lemas, mudah lelah, dan tidak bersemangat. Nah, bagi anda para wanita, mengkonumsi jengkol saat sedang menstruasi sangat dianjurkan agar tubuh anda tidak kekurangan zat besi akibat banyaknya darah menstruasi yang keluar tubuh.
3. Mencegah Tulang Keropos / Memperkuat tulang dan gigi
Selain zat besi dan protein, kandungan zat lain yang ada di dalam jengkol adalah kalsium dan fosfor. Dua zat ini adalah zat yang sangat dibutuhkan oleh tulang. Kalsium dan fosfor dapat mencegah tulang keropos (osteoporosis). Jadi, sering mengkonsumsi jengkol dengan porsi yang cukup dapat membuat tulang pada tubuh anda menjadi lebih kuat.
4. Basmi Radikal Bebas
Jengkol mengandung beberapa jenis vitamin seperti vitamin A, vitamin B1, vitamin B2, dan vitamin C. Vitamin A bermanfaat untuk menjaga kesehatan mata dan dapat meningkatkan ketajaman indera penglihatan. Vitamin A dan vitamin C juga berperan sebagai zat antioksidan. Manfaat antioksidan dikenal ampuh menangkal zat-zat radikal bebas penyebab penyakit kanker.
5. Mengatasi penyakit jantung koroner
Jengkol merupakan bahan makanan yang bersifat diuretic (pembuangan urine menjadi lancar). Pembuangan urine yang lancar sangat baik untuk para penderita penyakitjantung.
6. Merampingkan perut
Jangan salah ya, jengkol juga dapat membantu merampingkan perut yang buncit. Kandungan seratnya yang tinggi dapat melancarkan BAB sehingga secara tidak langsung membuat perut langsing. Salah satu penyebab buncitnya perut pada seseorang adalah karena buang air besar yang tidak lancar dan tidak teratur.
7. Mencegah diabetes
Hebatnya lagi, jengkol dapat mencegah timbulnya penyakit diabetes. Mengapa? Di dalam buah jengkol terdapat zat yang tidak ditemukan pada bahan-bahan makanan lainnya.
Zat tersebut dinamakan zat asam jengkolat. Asam jengkolat ini berupa kristal-kristal yang tidak larut oleh air. Karena sifat diuretic inilah jengkol sangat tidak dianjurkan untuk dikonsumsi oleh anda para penderita gangguan ginjal.
Dikhawatirkan ginjal tidak akan mampu menyaring asam jengkolat pada buah jengkol. Akibat ginjal tidak mampu menyaring asam jengkolat adalah sulit berhentinya buang air kecil (anyang-anyangan).
8. Mengatasi masalah penyempitan pembuluh darah
Penderita penyakit jantung mengalami penyempitan pembuluh darah sehingga darah yang mengalir menujujantung menjadi tidak lancar. Kandungan mineral pada jengkol ternyata dapat melebarkan pembuluh darah yang menyempit serta mencegah pembuluh darah menyempit kembali.
Nah, agar khasiat jengkol menjadi optimal, sebaiknya anda tidak memasak jengkol terlalu matang (overcooked).
9. Mengatasi sembelit pada ibu hamil
Ibu hamil biasanya sering mengalami sembelit. Kandungan serat pada jengkol dapat mengatasi masalah sembelit.
Dengan kata lain, serat pada jengkol membantu melancarkan pencernaan dan buang air besar. Namun tetap jangan terlalu banyak mengkonsumsi jengkol ya. Konsumsilah jengkol sesuai dengan jumlah yang dianjurkan.
10. Pertumbuhan tulang dan gigi pada janin yang masih dalam kandungan
Jengkol juga bermanfaat untuk pertumbuhan tulang dan gigi pada janin yang masih dalam kandungan. Pertumbuhan tulang dan gigi dapat berjalan optimal berkat kandungan kalsium dan fosfor yang tinggi pada buah jengkol.
11. Jengkol dapat menstabilkan organ-organ penting dalam tubuh
Organ-organ penting dalam tubuh akan berfungsi dengan baik dan stabil bila tubuh terpenuhi kebutuhan asam folat dan vitamin B6. Berbeda situasinya jika tubuh kekurangan asam folat dan vitamin B6. Tak heran jika ibu hamil juga disarankan untuk mengkonsumsi makanan yang kaya akan asam folat demi perkembangan janinnya.
Salah satu contoh makanan yang kaya akan asam folat adalah jengkol. Namun sekali perlu diingat bahwa konsumsilah jengkol secukupnya saja. Jangan terlalu berlebihan karena konsumsi jengkol yang berlebihan akan kurang baik efeknya untuk organ ginjal.
12. Mencegah kecacatan pada bayi
Kandungan asam folat pada jengkol juga dapat mencegah kecacatan bawaan pada bayi.
13. Mengontrol kadar gula darah
Manfaat lainnya dari buah jengkol adalah dapat mengontrol kadar gula darah sehingga sangat baik untuk dikonsumsi oleh anda para penderita diabetes.
Jengkol mengandung zat gula yang ‘bersahabat’ dengan para penderita diabetes. Zat gula pada jengkol merupakan zat gula yang paling mudah diurai sehingga aman untuk penderita diabetes.
Berbeda dengan zat gula pada bahan makanan lainnya seperti makanan-makanan yang mengandung karbohidrat. Zat gula yang mudah terurai pada jengkol ini kemudian akan diubah menjadi energi oleh tubuh.
Alhasil, stamina tubuh pun akan meningkat. Proses penguraian zat gula yang sempurna tidak akan menimbulkan timbunan gula darah di dalam tubuh.
14. Zat Antioksidan bermanfaat menjaga kesehatan jantung
Seperti yang sudah disebutkan di atas, jengkol mengandung zat antioksidan yang sangat baik untuk kesehatan tubuh. Demikian juga dengan kesehatan jantung.
Toksin atau racun dalam tubuh akan sulit masuk ke dalam tubuh, khususnya jantung, berkat perlindungan yang diberikan oleh zat antioksidan ini.
Segala sesuatu yang menghambat aliran darah dalam pembuluh darah juga akan hilang oleh zat yang terkandung pada jengkol. Aliran darah pun akan menjadi lebih lancar dan jantung pun akan berfungsi dengan baik dan optimal.
Semoga informasi seputar manfaat jengkol bagi kesehatan ini bermanfaat untuk anda para pembaca. Pastikan anda menjaga kesehatan tubuh anda dengan cara memperhatikan asupan nutrisi anda serta berolahraga secara teratur. Selektiflah dalam mengkonsumsi makanans. Meski jengkol identik sebagai makanan biasa, ternyata memiliki manfaat yang luar biasa bagi kesehatan. Benar begitu?
Kontraindikasi Jengkol
Tapi ingat ya bagi anda penderita gangguan organ ginjal, sebaiknya tidak mengkonsumsi jengkol karena akan semakin memperburuk kondisi organ ginjal anda. Mengkonsumsi jengkol pun perlu dibatasi, yaitu hanya 3 hingga 10 gram saja per hari. Porsi ini adalah takaran yang pas untuk anda yang ingin tetap sehat meski mengkonsumsi jengkol setiap hari.


Sumber:
http://gurukomputerkita.blogspot.com/2015/04/jengkol-berkhasiat-untuk-penyakit.html

Cara Ampuh Hilangkan Gatal Gigitan Nyamuk Dengan Sendok

Bukan hal yang asing lagi, Bahwa nyamuk memang  sudah menjadi momok yang biasa mengganggu lelapnya tidur anda. Sebenarnya bukan karena nyamuknya, Namun gigitan nyamuk yang cukup gatal, Terkadang membuat perasaan terasa jengkel dan mungkin anda berkeinginan untuk membasmi semua nyamuk yang ada di sekitar anda, Agar meraka tidak lagi mengganggu tidur anda yang nyenyak.
Dan perlu anda ketahui, Bahwa gigitan nyamuk yang menyebalkan tersebut, Tentunya sudah membuat tidur anda tidak lagi tenang, Karena rasa gatal itulah yang menjadi penyebabnya. Lantas bagaimana cara untuk mengatasi rasa gatal tersebut ?, Anda jangan khawatir, Ada cara unik dan ampuh untuk mengatasinya yakni cukup dengan menggunakan sendok, Maka rasa gatal akan gigitan nyamuk tersebut akan menghilang. Dan ini merupakan cara sederhana yang mungkin belum pernah anda ketahui sebelumnya.

Pada tahap pertama, Anda bisa mengambil sebuah sendok metal yang mungkin sudah tersedia di dapur atau ruang makan anda. Setelah itu ambil air panas secukupnya dan taruhlah kedalam wadah. Sehingga anda bisa memanaskan sendok dengan cara merendamnya ke dalam air panas yang sudah anda sediakan tadi.

Setelah anda merendam sendok dengan air panas, Maka tinggal mencari di mana anda terkena gigitan nyamuk yang membuat anda terasa gatal. Anda tinggal menempelkan dan tekan sendok tersebut pada bagian kulit yang gatal sampai sekiranya rasa gatal pada kulit anda mereda. Dan ketika sendok panas tersebut anda angkat, Maka bisa dipastikan bahwa rasa gatal yang anda derita akibat gigitan nyamuk tersebut dijamin hilang.

Dan sekarang pertanyaannya adalah, Mengapa hal demikian bisa seperti itu ?, Perlu anda ketahui, Ketika  nyamuk menggigit bagian kulit pada saat anda tidur, Serangga tersebut bisa menyuntikkan protein pada kulit bagian bawah sambil menghisap darah anda. Sehingga serangga penghisap ini, Dapat menyebabkan iritasi yang menyebabkan anda gatal-gatal. Oleh karean itu, Dengan menggunakan panas dari sendok metal tersebut, Bisa berguna untuk menghancurkan protein yang telah dimasukkan oleh nyamuk, Sehingga membuat kulit anda terasa lebih nyaman.

Cara tersebut bisa anda gunakan untuk menghilangkan rasa gatal akibat gigitan nyamuk, Namun bekas luka gigitan tetaplah masih ada. Akan tetapi, Yang terpenting rasa gatal pada gigitan nyamuk bisa teratasi dengan aman dan efektif, Sehingga anda bisa melanjutkan tidur dengan nyaman.
 
Sumber: 
http://gurukomputerkita.blogspot.com/2015/06/cara-ampuh-hilangkan-gatal-gigitan.html

Selasa, 07 April 2015

Penjelasan Pekerjaan Clerk

Jadi, Apa yang Seharusnya Saya Lakukan?

Clerk dikenal dengan banyak nama, Pekerja sebagai clerk atau assistant clerk adalah beberapa dari itu. Apapun jabatan Anda, peranan Anda akan lebih atau tidak sama dan Anda akan membantu tugas-tugas administrasi routin manager dengan sebuah organisasi atau depratment.
Kabanyakan peranan clerk akan terlibat beberapa pekerjaan berikut:
  • Filing
  • Pekerjaan-pekerjaan seperti mengungpulkan informasi dengan telepon, surat, email atau pada orang.
  • Mencari pekerjaan manager Anda
  • Merekam dan memperbaruhi databes
  • Photocopy dan menscan dokument
  • Menyortir dan menangani surat keluar
  • Membantu penyambutan.
Meskipun selalu ada beberapa tugas berartu Anda haru menyelesaikan setiap hari, pekerjaan-pekerjaan adminsitrasi akan membantu Anda untuk menyelesaikan pekerjaan yang monoton dan harus di tambah beberapa hal yang menarik pada pekerjaan Anda yang sangat berbeda.

Sumber:
http://www.totaljobs.com/careers-advice/job-profile/admin-jobs/clerk-job-description
(Dialih bahasakan kebahasa Indonesia)

Minggu, 05 April 2015

Terdidik Vs Tidak Terdidik

Oleh Amin Rais Iskandar
Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah UIN Sunan Gunung Djati
Adakah beda antara orang terdidik dengan yang tidak terdidik? Jawabannya ada. Jangankan di mata manusia, di mata Tuhan sekalipun jelas ada bedanya. Firman Tuhan dalam surat al-Mujadalah (11) menjanjikan peninggian derajat orang berilmu beberapa derajat. Bahkan derajatnya satu tingkat di bawah orang beriman. Jelas ini merupakan tanda perbedaan manusia di mata Tuhan.
Pendidikan dapat mengarahkan manusia pada sikap arif, bijak, berpikir luas, futuristik, kritis dan tidak arogan. Generasi bangsa demikianlah yang dibutuhkan keberadaanya. Bukan yang sebaliknya. Untuk mengisi dan memperjuangkan perkembangan Negara. Pencetakan generasi ideal termaksud, bukan barang mudah dan dalam waktu singkat. Tapi selain menuntut waktu yang lama juga membutuhkan ongkos tidak murah.
Perintah menuntut ilmu semenjak lahir hingga masuk liang lahat, adalah simbol bahwa ilmu melimpah ruah dan tidak ada habis-habisnya. Muhammad Saw. sendiri memberikan enam syarat yang perlu dipenuhi selama menuntut ilmu; cerdas, rakus (akan ilmu), harta, sungguh-sungguh, berinteraksi dengan guru (orang tua, alam, diri sendiri, dll), dan waktu yang panjang.
Permasalahan yang dihadapi–dalam kondisi krisis ekonomi–adalah harta. Biaya pendidikan yang mahal menjadi pematah semangat dan kerakusan (akan ilmu) yang dimiliki anak kurang mampu. Akhirnya talenta terpendam dan kecerdasan yang dimilikinya terbuang sia-sia. Berinteraksi dengan guru pun tak akan tercapai hingga jangka waktu panjang.
Yang ditunggu tentu saja solusi; uluran tangan pe-murah hati untuk membantu lahirnya generasi (ideal) bangsa. Lihat saja berapa banyak anak bertarung sendiri di jalanan. Mereka butuh subsidi untuk memenuhi hak mereka mendapatkan pendidikan. Atau, akan dibiarkan itu menjadi cerminan “wajah” pendidikan bangsa ini? Tentu bukan itu yang diharapkan.
Jika terus di biarkan, generasi muda bermentalkan jalanan perlahan akan tumbuh dan bertebaran mengisi bangsa ini. Jika memang bangsa ini mengakui adanya hari anak sedunia, mana bentuk peringatan (perayaan) hari anak sedunia?.***

Sumber: 
https://ruangsastra.wordpress.com/2008/07/23/terdidik-vs-tidak-terdidik/
 

Ciri Orang yang Terdidik

Pantaskah seseorang yang memiki ilmu tinggi/banyak pengetahuan itu menyombongkan diri? Tentu saja tidak. Biar bagaimanapun manusia itu sama di sisi sang pencipta, tidak ada perbedaan. Namun kita tidak menyadarinya ketika pengetahuan orang tua kita lebih sedikit dari kita, kita seakan-akan merasa orang yang paling benar ketika ada perbedabatan dengan orang tua. Ini masalah dengan orang tua, tapi bagaimana dengan seorang teman?

Haruskah kita meremehkan mereka saat sedang berbicara mengenai suatu topik pembicaraan yang tidak mereka kuasai betul? Sebagai manusia yang berakal hendaknya kita menghargai pendapat dan kemampuan mereka walaupun apa yang mereka katakan itu kurang tepat, kita harus menghargai dan berusaha untuk memperbaiki dengan cara yang halus agar tidak menyinggung perasaan mereka. Siapapun pasti marah jika pendapat yang kita lontarkan tidak dihargai atau ditertawakan.

Kembali ke orang tua, ketika basic pendidikan orang tua kita lebih rendah dari kita. Misalnya salah satu orang tua kita hanya tamat SMP sedangkan kita adalah seorang mahasiswa. Sebagai orang yang terdidik kita harus menghormati dan menjaga perasaan orang tua kita. Mereka lah yang merawat kita dan memberikan kasih sayang yang tulus hingga kita seperti ini. Tanpa mereka kita tak mungkin bisa bertahan hidup. Jadi intinya, kita harus mensyukuri segala sesuatu yang diberikan kepada kita dan berusaha untuk tidak menyombongkan diri dengan yang kita miliki karena semua itu hanyalah titipan dari sang Tuhan.

Semoga kita, khususnya Saya sendiri termasuk orang yang bersyukur dan bukan orang yang senang menyombongkan diri dengan segala kelebihan yang diberikan kepada kita.


Sumber:
http://tatastreet.blogspot.com/2010/05/ciri-orang-yang-terdidik.html

Yang Bergelar Belum Tentu Terpelajar


Mencermati situasi akhir-akhir ini, mengusik kenyamanan saya. Bukan hanya terkait berita debat soal korupsi, “pertengkaran” antara Hotman dan Ruhut, “sengketa” Jupe dan DP, rencana kenaikan harga BBM dan terhangat soal pilgub DKI, tapi juga sempat terusik oleh “debat” di Kompasiana.
Makin banyak orang-orang berpendidikan saling mencela. Menuding satu terhadap lainnya sebagai “orang tak berpendidikan”.
Sempat berandai-andai, “bagaimana ya rasanya bila saya disebut “tidak berpendidikan”?
Saya pejamkan mata, membayangkan diri sedang berdebat yang makin lama makin panas. Lawan debat saya berdiri, menunjuk muka saya dan berkata “ kamu seperti orang tak berpendidikan saja!”
Oh, my God! Ternyata, saya tersinggung, meski bisa berpura-pura tidak tersinggung. Sungguh tak nyaman.
Saya mengadakan “pencarian”. Mencari tahu mengapa saya marah ketika ada yang berani menyebut saya “tak berpendidikan”? Saya tidak terima disebut demikian. Sebab, saya berijazah dan bergelar.
Akhirnya, ketemu juga jawabnya.
Ternyata, ketika orang berani menyebut saya “tidak berpendidikan”, sebenarnya yang ingin mereka katakan adalah “perilaku saya tidak menunjukkan perilaku orang yang pernah belajar tentang pendidikan”.
Tutur kata, bicara, tingkah dan perilaku saya, pasti tidaklah indah. Saya pasti sudah jauh dari tata krama, jauh dari kesantunan, jauh dari mengerti tentang bagaimana hidup dan kehidupan seharusnya berjalan. Saya pasti sudah mengabaikan keluhuran budi pekerti. Ternyata, untuk menyebut “tidak berpendidikan”, mereka tidak memerlukan ijazah dan gelar saya.
Selama ini saya telah jauh keliru. Mengira bahwa pendidikan adalah soal ijazah dan gelar. Saya terlalu sempit memaknai apa itu pendidikan. Pantas saya marah jika saya disebut sebagai tidak berpendidikan, sementara saya mengantongi banyak ijazah dan gelar.
Dalam “pencarian”, saya menemukan pelajaran menarik tentang pendidikan dan orang-orang terdidik/terpelajar.
Ternyata, pendidikan itu, BUKAN tentang sertifikat, ijazah atau gelar. Pendidikan adalah tentang bagaimana seseorang berkehidupan. Pendidikan bukan indoktrinasi, sebatas memberitahukan “Ini loh (gagasanku) yang (paling) benar!” .
Pendidikan adalah membuka mind/pikiran, menstimulasi, membangkitkan, mendukung pencarian kebenaran. Pendidikan adalah mengembangkan pikiran dengan memperhatikan ragam gagasan (diri/orang lain). Pendidikan itu, menghargai perbedaan pandang.
Education is about learning, not teaching. Pendidikan adalah tentang pembelajaran, BUKAN pengajaran. Jika pendidikan adalah pembelajaran, maka itu adalah proses yang berkembang.
Education should produce (well) Educated people.
Dengan demikian, pendidikan (baik formal maupun non formal) mestinya melahirkan orang-orang terdidik/terpelajar. Pendidikan bisa berlangsung di dalam atau di luar gedung sekolah/kampus.
Sekarang saya mengerti mengapa para Professor itu selalu menekankan kata “terpelajar”, dalam setiap sidang (Ujian) Terbuka calon doktor.
Dalam Sidang, sebelum bertanya, para Professor selalu mengucapkan “Saudara Promovendus/Promovenda yang “terpelajar”, bukan “Saudara Promovendus/Promovenda yang berpendidikan.”
Saya menangkap bahwa itu adalah “warning” para guru besar terhadap keadaan di luar institusi, di dalam University of Life. Sehingga, kepada sang promovendus/a, tak bosan-bosan selalu diucap kalimat, “Saudara Promovendus/Promovenda yang terpelajar”.
Tony McGregor menginspirasi tulisan ini. Ia mengutip pendapat beberapa filsuf bahwa, seorang yang terpelajar, bekerja keras meningkatkan, baik kualitas dirinya sebagai pribadi, maupun kualiatas dirinya sebagai warga Negara.
Yang terpelajar, ia tidak mudah menerima sesuatu, begitu saja. Ia berakal budi, peduli terhadap sekitarnya dan berpandangan jauh ke depan.
Yang terpelajar, selalu sadar bahwa tindakan yang dilakukan hari ini, dapat berdampak kepada orang lain/lingkungan, bukan hanya saat ini, tapi juga pada generasi berikutnya.
Yang terpelajar, ia bertindak dalam cara-cara mulia dalam membesarkan dirinya dan masyarakat. Bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk masa akan datang. Bukan hanya memikirkan (kepentingan) satu, dua atau lima generasi berikutnya, namun lebih dari itu, ia juga memikirkan (kepentingan) ratusan, ribuan dan bahkan puluhan ribu generasi mendatang. ( Hhmm…Jadi ingat tambang-tambang yang terbang melayang…)
Yang terpelajar, memiliki kesejatian empati, penuh perhatian, mengerti orang lain, dan mampu menghargai.
Yang terpelajar, ia sangat paham bahwa nilai-nilai yang dianutnya, keinginannya dan kegemarannya tidak bisa dipaksakan kepada orang lain. Ia bertindak berdasarkan kearifan lokal, meskipun berpola pikir global.
Siapapun yang bersedia mengembangkan kualitas dirinya, memiliki karakter seperti tersebut di atas, pasti dipersepsi, dihargai, dikenal dan dikenang sebagai orang terpelajar. Meskipun ia tidak bergelar.
Rasanya, masih banyak PR saya. Sebab, bila sampai disebut “tak berpendidikan” (maksudnya, tidak terpelajar), sejumlah ijazah dan gelar yang saya punya, tak mampu menolong saya.
Hhmm..bagaimana dengan Anda?
Salam bahagia dan terus berkarya!
Refered to :
http://edukasi.kompasiana.com/2012/03/24/yang-bergelar-belum-tentu-terpelajar-444658.html
 

Yang Bergelar Belum Tentu Terpelajar

HL | 24 March 2012 | 18:23 Dibaca: 1530   Komentar: 111   6
1332600363474755576
admin/ilustrasi (shutterstock)
Mencermati situasi akhir-akhir ini, mengusik kenyamanan saya. Bukan hanya terkait berita debat soal korupsi, “pertengkaran” antara Hotman dan Ruhut, “sengketa” Jupe dan DP, rencana kenaikan harga BBM dan terhangat soal pilgub DKI, tapi juga sempat terusik oleh “debat” di Kompasiana.
Makin banyak orang-orang berpendidikan saling mencela. Menuding satu terhadap lainnya sebagai “orang tak berpendidikan”.
Sempat berandai-andai, “bagaimana ya rasanya bila saya disebut “tidak berpendidikan”?
Saya pejamkan mata, membayangkan diri sedang berdebat yang makin lama makin panas. Lawan debat saya berdiri, menunjuk muka saya dan berkata “ kamu seperti orang tak berpendidikan saja!”
Oh, my God! Ternyata, saya tersinggung, meski bisa berpura-pura tidak tersinggung. Sungguh tak nyaman.
Saya mengadakan “pencarian”. Mencari tahu mengapa saya marah ketika ada yang berani menyebut saya “tak berpendidikan”? Saya tidak terima disebut demikian. Sebab, saya berijazah dan bergelar.
Akhirnya, ketemu juga jawabnya.
Ternyata, ketika orang berani menyebut saya “tidak berpendidikan”, sebenarnya yang ingin mereka katakan adalah “perilaku saya tidak menunjukkan perilaku orang yang pernah belajar tentang pendidikan”.
Tutur kata, bicara, tingkah dan perilaku saya, pasti tidaklah indah. Saya pasti sudah jauh dari tata krama, jauh dari kesantunan, jauh dari mengerti tentang bagaimana hidup dan kehidupan seharusnya berjalan. Saya pasti sudah mengabaikan keluhuran budi pekerti. Ternyata, untuk menyebut “tidak berpendidikan”, mereka tidak memerlukan ijazah dan gelar saya.
Selama ini saya telah jauh keliru. Mengira bahwa pendidikan adalah soal ijazah dan gelar. Saya terlalu sempit memaknai apa itu pendidikan. Pantas saya marah jika saya disebut sebagai tidak berpendidikan, sementara saya mengantongi banyak ijazah dan gelar.
Dalam “pencarian”, saya menemukan pelajaran menarik tentang pendidikan dan orang-orang terdidik/terpelajar.
Ternyata, pendidikan itu, BUKAN tentang sertifikat, ijazah atau gelar. Pendidikan adalah tentang bagaimana seseorang berkehidupan. Pendidikan bukan indoktrinasi, sebatas memberitahukan “Ini loh (gagasanku) yang (paling) benar!” .
Pendidikan adalah membuka mind/pikiran, menstimulasi, membangkitkan, mendukung pencarian kebenaran. Pendidikan adalah mengembangkan pikiran dengan memperhatikan ragam gagasan (diri/orang lain). Pendidikan itu, menghargai perbedaan pandang.
Education is about learning, not teaching. Pendidikan adalah tentang pembelajaran, BUKAN pengajaran. Jika pendidikan adalah pembelajaran, maka itu adalah proses yang berkembang.
Education should produce (well) Educated people.
Dengan demikian, pendidikan (baik formal maupun non formal) mestinya melahirkan orang-orang terdidik/terpelajar. Pendidikan bisa berlangsung di dalam atau di luar gedung sekolah/kampus.
Sekarang saya mengerti mengapa para Professor itu selalu menekankan kata “terpelajar”, dalam setiap sidang (Ujian) Terbuka calon doktor.
Dalam Sidang, sebelum bertanya, para Professor selalu mengucapkan “Saudara Promovendus/Promovenda yang “terpelajar”, bukan “Saudara Promovendus/Promovenda yang berpendidikan.”
Saya menangkap bahwa itu adalah “warning” para guru besar terhadap keadaan di luar institusi, di dalam University of Life. Sehingga, kepada sang promovendus/a, tak bosan-bosan selalu diucap kalimat, “Saudara Promovendus/Promovenda yang terpelajar”.
Tony McGregor menginspirasi tulisan ini. Ia mengutip pendapat beberapa filsuf bahwa, seorang yang terpelajar, bekerja keras meningkatkan, baik kualitas dirinya sebagai pribadi, maupun kualiatas dirinya sebagai warga Negara.
Yang terpelajar, ia tidak mudah menerima sesuatu, begitu saja. Ia berakal budi, peduli terhadap sekitarnya dan berpandangan jauh ke depan.
Yang terpelajar, selalu sadar bahwa tindakan yang dilakukan hari ini, dapat berdampak kepada orang lain/lingkungan, bukan hanya saat ini, tapi juga pada generasi berikutnya.
Yang terpelajar, ia bertindak dalam cara-cara mulia dalam membesarkan dirinya dan masyarakat. Bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk masa akan datang. Bukan hanya memikirkan (kepentingan) satu, dua atau lima generasi berikutnya, namun lebih dari itu, ia juga memikirkan (kepentingan) ratusan, ribuan dan bahkan puluhan ribu generasi mendatang. ( Hhmm…Jadi ingat tambang-tambang yang terbang melayang…)
Yang terpelajar, memiliki kesejatian empati, penuh perhatian, mengerti orang lain, dan mampu menghargai.
Yang terpelajar, ia sangat paham bahwa nilai-nilai yang dianutnya, keinginannya dan kegemarannya tidak bisa dipaksakan kepada orang lain. Ia bertindak berdasarkan kearifan lokal, meskipun berpola pikir global.
Siapapun yang bersedia mengembangkan kualitas dirinya, memiliki karakter seperti tersebut di atas, pasti dipersepsi, dihargai, dikenal dan dikenang sebagai orang terpelajar. Meskipun ia tidak bergelar.
Rasanya, masih banyak PR saya. Sebab, bila sampai disebut “tak berpendidikan” (maksudnya, tidak terpelajar), sejumlah ijazah dan gelar yang saya punya, tak mampu menolong saya.
Hhmm..bagaimana dengan Anda?
Salam bahagia dan terus berkarya!
Refered to :