https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/18/12/06/pjbr6i313-petuah-bijak-ali-bin-abi-thalib-untuk-pencari-ilmu
Tugas yang diemban oleh para pencari ilmu sangat mulia dan terhormat.
REPUBLIKA.CO.ID,
JAKARTA -- Syekh Aiman Sami menulis risalah sederhana. Sebuah catatan
yang ia tujukan untuk para pencari ilmu. Kumpulan pesan ringkas tapi
padat itu ia tulis dengan tajuk Risalah ila Thalib al-Ilmi. Tugas yang
diemban oleh para pencari ilmu sangat mulia dan terhormat. Dengan ilmu
yang diperoleh, pada hakikatnya akan mengantarkan mereka terhadap
pengakuan yang kuat atas eksistensi Allah SWT.
Allah
menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak
disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang
berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia
(yang berhak disembah), Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (QS. Ali
Imran [3]: 18).
Dengan ilmu yang diperoleh, derajat mereka akan terangkat. Ini
seperti ditegaskan dalam surah az-Zumar ayat 9 dan Mujadilah ayat 11.
Para malaikat pun, seperti tertuang dalam hadis riwayat Abu ad-Darda',
akan memberikan restu dan pertolongan bagi para pencari ilmu.
Ali
bin Abi Thalib RA pernah berbagi petuah bijak kepada Kamil bin Ziyad.
Menantu Rasulullah tersebut menegaskan kepada Kamil, ingatlah bahwa ilmu
itu lebih berharga dari harta. Ilmu akan menjagamu, sementara engkau
menjaga harta itu. Ilmu akan berkuasa, padahal harta sering engkau
kuasai. Dan, harta akan berkurang dengan dibelanjakan, sementara ilmu
semakin bertambah jika sering disalurkan.
Syekh
Aiman menduga, serangkaian etika menuntut ilmu tak lagi diperhatikan.
Adab paling utama yang terlupakan itu ialah pentingnya penekanan niat.
Orientasi mencari ilmu mesti dilandasi atas semangat ibadah dan
pengabdian untuk-Nya. Sekolah ataupun kuliah, bukan cuma diniati untuk
mendapat pekerjaan. Terkadang, memang pragmatisme hidup mendorong tak
sedikit kalangan pendek pikiran.
Segala sesuatu itu
tergantung niat, titah Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Umar bin
Khatab. Membersihkan niatan duniawi memang tak gampang. Perlu usaha
keras dari yang bersangkutan, tetapi ini akan sebanding dengan hasil
yang akan dicapai. Dua kebajikan sekaligus akan tercapai, bila niat
belajar diikhlaskan untuk-Nya, yakni kebaikan beribadah dan ganjaran
mencari ilmu. Tak ada yang lebih sulit bagiku ketimbang meluruskan niat,
ujar tokoh generasi salaf, Sufyan ats-Tsauri.
Siap
dengan segala keterbatasan. Terbatas ongkos dan uang jajan, misalnya.
Seorang pencari ilmu idealnya terbiasa hidup prihatin. Tidak bergaya
hidup mewah. Berapa pun bekal materi yang ia kantongi, hendaknya
dipergunakan secukupnya.
Justru, mereka yang
berkecukupan biaya dan ongkos faktanya kerap kesulitan menerima ilmu.
Murid-murid berprestasi malahan banyak bermunculan dari keluarga
sederhana, bahkan serbakekurangan. Ilmu hanya akan diraih berkat sabar
dan keprihatinan, kata inisiator Mazhab Maliki, Imam Malik, berpetuah.
Hormatilah
guru. Guru adalah perantara utama tersalurkannya ilmu. Tunaikan hak-hak
mereka. Jaga etika bertanya, hindari mengumbar kekurangannya, dan taati
perintah selama dalam kebajikan dan tidak bermaksiat pada-Nya.
Imam
Syafii mencontohkan bagaimana bersikap terhadap guru, seperti yang
ditunjukkannya di hadapan Imam Malik. Konon, pencetus Mazhab Syafii itu
selalu berhati-hati membuka lembaran kitab jika berada di depan sang
guru, Imam Malik. Aku tidak ingin membuatnya terusik dengan gesekan
kertas, kata Syafii.