Rabu, 26 Mei 2021
Unconsidirstion Day
Sabtu, 03 April 2021
Ulang Tahun Covid19 Di Indonesia
Covid19 seolah-olah belum menampakkan tanda-tanda akan pergi dari bumi ini dan khususnya di Indonesia. Hari demi hari jumlah kasus Covid19 makin bertambah ini di tengarai oleh ketidak disiplinannya masyarakat terhadap protocol kesehatan yang telah diterapkan oleh pemerintah. Covid19 sudah masuk tahun pertama di Indonesia sejak bulan Maret 2021.
Covid19 adalah virus yang menyebabkan semua sektor kehidupan menjadi mundur terutama sektor ekonomi, terutama bagi para pekerja yang mendapatkan penghasilan dari serabutan atau harian. Pemerintah telah berupayah dengan memberi bantuan kepada masyarakat yang terkena dampak Covid19 melalui bantuan BLT sembako, BLT tenaga kerja atau bantuan lainnya yang serupa.
Dengan belum hilangnya Covid19 dibumi ini, kita diharapkan selalu berhati-hati dan melihat potensi yang bisa membuat setiap orang untuk hidup dan berkembang. Untuk itu setiap orang diminta untuk bersabar dan memanfaatkan situasi yang ada dengan meningkatkan keterampilan melalui media sosial dan virtual dengan memberikan berbagai macam bentuk penghasilan lewat uang eletronik.
<script data-ad-client="ca-pub-9851244210713912" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>
Senin, 19 Oktober 2020
Sikap Yang Terbolak-Balik
Sabtu, 10 Oktober 2020
Demo Undang-undang Cipta Karya Antara Pengaruh Hoax dan Kebenaran
Pada tanggal 8 oktober 2020 telah terjadi demo besar-besaran menuntut Pemerintah dan DPR untuk membatalkan pengesahan Undang-undang Cipta Karya (Omnibuslaw) yang telah disahkan oleh ketua DPR Puan Maharani. Pengesahan ini terkesan dipaksakan ditengah pandemi Corona di negera kita. Dan dalam kondisi ekonomi rakyat yang sedang anjlok. Masa yang melakukan demonstrasi tersebut terdiri dari elemen masyarakat yang tergabung dalam persatuan buruh dan pekerja, para mahasiswa dan pelajar. Dalam demonstrasi tersebut ada beberapa poin yang menjadi dasar aksi yang berujung anarkis tersebut yaitu dalam undang-undang omnibuslaw ciptaker menurut pengunjuk rasa bahwa : Dihilangkannya pesangon ketika terjadinya pemutusan hubungan kerja, dihilangkannya UMR dan UMS menjadi UMP, tidak adanya cuti oleh pekerja, dimudahkannya pekerja asing masuk ke Indonesia.
Selang satu hari setelah itu presiden Jokowi Dodo dalam pidatonya mengatakan bahwa para demontrans telah disinformasi dan belum membaca secara keseluruhan isi dari undang-undang ciptaker tersebut. Dan Presiden Jokowi juga mempersilahkan kepada pihak-pihak yang berkeberatan mengenai undang-undang tersebut untuk mengajukan judicial review atau peninjauan kembali ke MK (Makamah Konstitusi).
Dan dalam waktu bersamaan Tokoh reformasi Amin Rais dalam screen Tiktok dalam dua segment mengatakan bahwa undang-undang Omnibuslaw cipta lapangan kerja itu adalah sebuah produk yang gagal diterapkan diberbagai negara yang pernah menjalankan karena akan membuat negara Indonesia akan dikuasai asing dan akan memiskinkan warga negara Indonesia karena akan bersaing dengan tenaga kerja dari luar dan orang asing akan bebas menguasai tanah Indonesia.
Dilain pihak tokoh NU KH.Said Aqil Siraj menegaskan bahwa NU akan berjuang dengan cara elegan untuk membatalkan Undang-Undang Omnibuslaw di MK (Mahkamah Konstitusi) karena undang-undang tersebut dianggap telah melemahkan bangsa Indonesia dan memudahkan asing untuk masuk ke Indonesia.
Terlepas dari pernyataan itu siapa yang fakta dan siapa yang hoaks nanti akan dilihat di pengadilan MK (Mahkamah Konstitusi) dan masyarakat akan melihat fakta-fakta yang sebenarnya dan masyarakat akan mengetahui siapa yang sebenarnya membela kepentingan rakyat dan bangsanya.
Selasa, 22 Januari 2019
The height Falling
RECEIVING & GRATEFUL
Kamis, 06 Desember 2018
Petuah Bijak Ali bin Abi Thalib untuk Pencari Ilmu
Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (QS. Ali Imran [3]: 18).
Ali bin Abi Thalib RA pernah berbagi petuah bijak kepada Kamil bin Ziyad. Menantu Rasulullah tersebut menegaskan kepada Kamil, ingatlah bahwa ilmu itu lebih berharga dari harta. Ilmu akan menjagamu, sementara engkau menjaga harta itu. Ilmu akan berkuasa, padahal harta sering engkau kuasai. Dan, harta akan berkurang dengan dibelanjakan, sementara ilmu semakin bertambah jika sering disalurkan.
Syekh Aiman menduga, serangkaian etika menuntut ilmu tak lagi diperhatikan. Adab paling utama yang terlupakan itu ialah pentingnya penekanan niat. Orientasi mencari ilmu mesti dilandasi atas semangat ibadah dan pengabdian untuk-Nya. Sekolah ataupun kuliah, bukan cuma diniati untuk mendapat pekerjaan. Terkadang, memang pragmatisme hidup mendorong tak sedikit kalangan pendek pikiran.
Segala sesuatu itu tergantung niat, titah Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Umar bin Khatab. Membersihkan niatan duniawi memang tak gampang. Perlu usaha keras dari yang bersangkutan, tetapi ini akan sebanding dengan hasil yang akan dicapai. Dua kebajikan sekaligus akan tercapai, bila niat belajar diikhlaskan untuk-Nya, yakni kebaikan beribadah dan ganjaran mencari ilmu. Tak ada yang lebih sulit bagiku ketimbang meluruskan niat, ujar tokoh generasi salaf, Sufyan ats-Tsauri.
Siap dengan segala keterbatasan. Terbatas ongkos dan uang jajan, misalnya. Seorang pencari ilmu idealnya terbiasa hidup prihatin. Tidak bergaya hidup mewah. Berapa pun bekal materi yang ia kantongi, hendaknya dipergunakan secukupnya.
Justru, mereka yang berkecukupan biaya dan ongkos faktanya kerap kesulitan menerima ilmu. Murid-murid berprestasi malahan banyak bermunculan dari keluarga sederhana, bahkan serbakekurangan. Ilmu hanya akan diraih berkat sabar dan keprihatinan, kata inisiator Mazhab Maliki, Imam Malik, berpetuah.
Hormatilah guru. Guru adalah perantara utama tersalurkannya ilmu. Tunaikan hak-hak mereka. Jaga etika bertanya, hindari mengumbar kekurangannya, dan taati perintah selama dalam kebajikan dan tidak bermaksiat pada-Nya.
Imam Syafii mencontohkan bagaimana bersikap terhadap guru, seperti yang ditunjukkannya di hadapan Imam Malik. Konon, pencetus Mazhab Syafii itu selalu berhati-hati membuka lembaran kitab jika berada di depan sang guru, Imam Malik. Aku tidak ingin membuatnya terusik dengan gesekan kertas, kata Syafii.



